Kompang, sebuah alat musik pukul yang mirip dengan rebana namun umumnya lebih pipih, merupakan instrumen ikonik dalam budaya Melayu Deli di Sumatera Utara. Lebih dari sekadar pengiring musik, kompang adalah simbol kebersamaan dan kegembiraan, seringkali menjadi elemen sentral dalam berbagai acara keagamaan dan perayaan penting, seperti pernikahan, khitanan, hingga Maulid Nabi.
Kompang diyakini dibawa oleh para pedagang Arab dan pendakwah Islam ke Nusantara sekitar abad ke-13 atau ke-14 Masehi, seiring dengan penyebaran agama Islam. Nama “kompang” sendiri dipercaya berasal dari kata Arab “darbuka,” yang merujuk pada alat perkusi yang dipukul. Sejak saat itu, kompang telah menyatu erat dengan tradisi Melayu, termasuk di daerah Deli, dan menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya mereka.
Secara fisik, kompang berbentuk bundar, terbuat dari bingkai kayu yang ditutup dengan kulit binatang (umumnya kulit kambing) pada salah satu sisinya. Kulit ini direntangkan dan dipaku pada bingkai, kemudian dikencangkan untuk menghasilkan resonansi suara yang optimal. Cara memainkan kompang adalah dengan memukul permukaan kulitnya menggunakan telapak tangan dan jari. Berbagai variasi pukulan pada bagian tengah atau tepi kulit menghasilkan suara yang berbeda, memungkinkan pemain menciptakan pola ritmis yang kompleks dan dinamis.
Dalam budaya Melayu Deli, kompang memiliki peran yang sangat signifikan dalam berbagai acara keagamaan. Ia menjadi pengiring utama dalam melantunkan syair-syair pujian kepada Nabi Muhammad SAW, seperti Barzanji dan Marhaban. Suara kompang yang bersemangat dan berirama mampu menciptakan suasana khidmat sekaligus meriah, membangkitkan semangat kebersamaan dalam acara-acara keagamaan.
Selain itu, kompang juga tak pernah absen dalam perayaan dan acara adat lainnya. Dalam arak-arakan pengantin, rombongan kompang akan mengiringi pengantin menuju pelaminan, menciptakan suasana suka cita dan meriah. Pada acara khitanan atau perayaan hari-hari besar Islam lainnya, lantunan kompang selalu hadir untuk memeriahkan suasana dan menjadi ekspresi kegembiraan masyarakat.
Keberadaan kompang tidak hanya terbatas sebagai alat musik pukul pengiring, tetapi juga menjadi sarana untuk menjaga tradisi lisan dan nilai-nilai Islam dalam budaya Melayu Deli. Kesenian ini diturunkan dari generasi ke generasi, memastikan bahwa ritme dan melodi kompang akan terus bergema dalam setiap perayaan dan acara keagamaan, menjaga warisan budaya Melayu tetap hidup dan relevan.
